Hari itu, langit cerah menyambut pagi yang istimewa di SLB AKIRRA 2 PASALAKAN CIREBON, 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, dan seluruh siswa serta guru sudah mempersiapkan diri untuk merayakan hari yang penuh makna ini.

Pukul delapan pagi, halaman sekolah sudah dipenuhi hiasan warna-warni. Ada spanduk bertuliskan “Selamat Hari Kartini”, dan bendera merah putih kecil menghiasi tiap sudut. Anak-anak dari berbagai kelas berkumpul, mengenakan pakaian adat daerah. Beberapa siswa tuna rungu mengenakan pakaian adat Jawa, sementara siswa tunanetra dengan bantuan guru mengenakan baju adat Bali dan Betawi.
Kegiatan dimulai dengan upacara sederhana. Salah satu guru menggunakan bahasa isyarat untuk membacakan sejarah singkat R.A. Kartini dan perjuangannya dalam memperjuangkan hak perempuan. Para siswa tampak antusias, meskipun mereka memiliki keterbatasan masing-masing, semangat untuk mengenal tokoh pahlawan bangsa sangat tinggi.
Setelah upacara, dilanjutkan dengan lomba peragaan busana adat. Anak-anak berjalan di atas panggung sederhana dengan penuh percaya diri, dibimbing oleh guru pendamping. Sorak-sorai penonton terdengar saat seorang siswi tuna daksa menampilkan tarian daerah dengan penuh semangat, menggunakan kursi rodanya sebagai bagian dari penampilan.

Ada pula lomba mewarnai gambar Kartini untuk siswa tunagrahita. Meskipun pewarnaannya belum sempurna, namun semua karya dipajang dengan bangga di dinding kelas.
Yang paling mengharukan adalah saat para siswa membacakan surat untuk Ibu Kartini. Surat-surat itu ditulis dengan bantuan guru dan dibacakan oleh para siswa dengan penuh perasaan. Salah satu surat dari siswa tunanetra berbunyi:
“Terima kasih, Ibu Kartini. Karena Ibu, kami semua bisa sekolah dan belajar seperti anak-anak lainnya. Kami ingin menjadi anak yang berguna, meskipun kami berbeda.”
Hari Kartini di SLB AKIRRA 2 PASALAKAN bukan hanya perayaan, tapi juga bukti bahwa semangat perjuangan dan kesetaraan hidup di hati setiap anak, tanpa memandang keterbatasan.

